kalo dia kurang….apa harus diejek??
Tuesday, April 17th, 2007Ge ga pernah mau buat nonton film komedinya Indonesia. Bukannya sok
bule atau ga ngehargain produksi dalam negri. Tapi pertama karena joke nya yang emang ga nyambung ama gw (apa gw yang
lemot yak?) Kedua joke nya sendiri juga selalu pake gaya slapstick itu dan itu
lagi. Dari jamannya chanel TV cuman ada TVRI doank.
Dan yang selalu gw bingungkan, adalah kok ya joke yang dipake selalu joke
yang memakai fisik sebagai objeknya. Such as dari jaman Warkop masih In
di waktu trend bunda gw . Yang jadi bahan selalu saja Dono (alm) karena giginya
tonggos. Always, itu terus yang jadi bahan celaan. And then move to Omas,
sekarang yang jadi bahan adalah bibir dan gigi dia yang memang aga melebihi
ukuran normal. Atau syapa tuh pelawak yang badannya kecil, yang suka dibilangin
buat bediri dulu baru ngomong…a.k.a nyindir kalo dia kok cebol….Even Tukul yang
kabarnya sekali show dibayar 30 Jt , salah satu objek joke adalah muka dia
sendiri.
Mungkin orang akan dengan gampang
bilang…”yah mereka
kan
dibayar untuk itu”..Ini kalo kata gw bisa merupakan sebuah pernyataan polemik.
Dalam artian maksudnya tuh apa….??apakah mereka dibayar untuk melucu??ataukah mereka dibayar untuk dihina???
Gw percaya TV adalah media paling
cepat untuk menyebarkan berbagai macam bentuk informasi. Dan televise bahkan
bisa mendoktrinasi pikiran pada viewers nya. Lets say, ada aja yang ngeliput
tentang club baru yang sedang launching, orang akan dengan reflek berkeinginan
untuk dating ke club baru tersebut. Karena apa???karena keluar di TV…Nah…kenapa
magnet seperti ini tidak dipergunakan pleh para pembuat acara untuk menciptakan
bentuk tontonan humor yang lebih kreatif. Selain dengan topic yang
mempergunakan fisik untuk bahannya. Banyak kok serial komedi luar yang bisa
dijadikan acuan. Acuan loh yah bukan buat di jiplak..hehe
Karena TV ditionton semua orang. Dari segala umur. For sample anak anak. Yang
kalau tanpa didikan orang tua, akan langsung menyerap bahwa sebuah ejekan fisik
bisa dibenarkan. Dan dia akan terbiasa untuk mengejek orang lain. Sedangkan
anak yang dibesarkan dengan ejekan, dia akan tumbuh jadi seorang pemalu. Malu
akan dirinya sendiri.
Let say, mungkin ini bukan contoh
ejekan fisik. Tapi mempunyai impact yang sangat besar. Adek angkat gw,
dibesarkan dengan ejekan oleh mamahnya sendiri. Dia selalu dibilang jelek (yang
awalnya buat becandaan) dan dibilang bodoh (tadinya buat necandaan juga)
Akhirnya sekuat apapun dia berusaha, even nilai kimia dia nyaris sempurna
disekolah, yang ada dikepalanya dalah dia tuh bodoh. Dan secantik apapun dia gw
bilang, dia tetap tidak mau untuk berkumpul dengan orang lain karena dia selalu
merasa dia itu jelek. Padahal..dia sangat cantik dan pintar.
Apalagi kalau ejekan memang ditujukan kepada orang yang benar benar
kekurangan. Pertama dia memang sudah kurang. Kedua ditambah lagi dengan beban
ejekan. Bisa bisa dia ga keluar rumah.
Tetangga gw anaknya aga gemuk. Kelas 3 SD, gw rasa berat badannya masih di
dalam taraf normal untuk anak seusia dia. Tetapi dia malah mati matian diet
karena selalu diejek gendut disekolahan. Dan akhirnya malah kena anoreksia. Sedangkan
dia dalam usia pertumbuhan. Karena dia ga tahan diejek, maka dia mulai
mengurangi makan..dan yah….gitu deh..masuk rumah sakit.
Kenapa gw menulis ini??? Karena gw juga kekurangan. Mata kanan gw kalo
diperhatiin benar benar akan appears kalo mata kanan gw juling. Gw dihina
setiap hari, dirumah, disekolah, di tempat ngaji….mata gw selalu dijadikan
bahan ejekan atau joke. Tapi gw dibesarkan oleh Bunda gw tidak dengan ejekan.
Bunda selalu mengatakan bahwa kekurangan itu bukan untuk disesali. Tetapi untuk disyukuri karena tanpa kita
sadari kita pasti diberkahi dengan banyak kelebihan lain. Dan kalau kita hidup
dengan memikirkan kekurangan kita, kita tidak akan pernah maju. Kita akan hidup
dalam dunia kecil kita yang sudah digaris kuning oleh kekurangan sendiri.
Kaya temen gw, mau masuk toko baju aja jadi mikir, ”bie ini kan toko baju
untuk orang orang kurus”….hahaha…..see…..masuk toko aja jadi
takut…emang ada warningnya gitu..ndut dilarang masuk???
Seandainya gw ga punya Bunda seperti ini. Mungkin gw akan tumbuh jadi anak
yang minder. Yang selalu malu dan nunduk kalo ngomong dengan orang laen. Karena
gw akan takut diejek semisal mereka mengetahui kalo mata gw juling.
Jadi buat lo yang punya adek pincang, sumbing, gendut, aga lemah daya
tangkapnya, or even juling kaya gw, atau malah memang disable sekalipun. Besarkan mereka dengan pujian. Merela yang
dibesarkan dengan pujian akan tumbuh dengan percaya diri….
Thanks to my mom…yang dari dulu selalu melindungi gw…..dari ejekan
paling parah sekalipun…..